Jumat, 05 Juli 2019

Kesejukan Pancaran Wajah


Menarik sekali jikalau kita terus menerus belajar tentang fenomena apapun yang terjadi dalam hiruk-pikuk kehidupan ini. Tidak ada salahnya kalau kita buat semacam target.
Misalnya : hari ini kita belajar tentang wajah. Wajah? Ya, wajah. Karena masalah wajah bukan hanya masalah bentuknya, tapi yang utama adalah pancaran yang tersemburat
dari si pemilik wajah tersebut. 
Ketika pagi menyingsing, misalnya, tekadkan dalam diri : "Saya ingin tahu wajah yang paling menenteramkan hati itu seperti apa? Wajah yang paling menggelisahkan
itu seperti bagaimana?" karena pastilah hari ini kita akan banyak bertemu dengan wajah orang per orang. 
Ya, karena setiap orang pastilah punya wajah. Wajah iStri, suami, anak, tetangga, teman sekampus, temn sekantor, orang di perjalanan, dan lain sebagainya. Nah, ketika kita berjumpa
dengan siapapun hari ini, marilah kita belajar ilmu tentang wajah. 
Subhanallaah, pastilah kita akan bertemu dengan beraneka macam bentuk wajah. Dan, tiap wajah ternyata dampaknya berbeda-beda kepada kita. Ada yang menenteramkan,
ada yang menyejukkan, ada yang menggelikan, ada yang menggelisahkan, dan ada pula yang menakutkan. Lho, kok menakutkan? Kenapa? Apa yang menakutkan karena bentuk hidungnya?
 Tentu saja tidak! Sebab ada yang hidungnya mungil tapi menenteramkan. Ada yang sorot matanya tajam menghunjam, tapi menyejukkan. Ada yang kulitnya hitam, tapi penuh wibawa. 
Pernah suatu ketika saya melihat wajah ibu dan ayahku, subhanallaah, walaupun kulitnya tidak terlalu putih, tidak kuning, tetapi ketika memandang wajahnya...
 sejuk sekali! Senyumnya begitu tulus meresap ke relung qolbu yang paling dalam. Sungguh bagai disiram air sejuk menyegarkan di pagi hari. 
Ada pula seorang ulama yang tubuhnya mungil, dan lumpuhan sejak kecil. Namanya Syekh Ahmad Yassin, pemimpin spiritual gerakan Intifadah, Palestina.
Ia tidak punya daya, duduknya saja di atas kursi roda. Hanya kepalanya saja yang bergerak. Tapi, saat menatap wajahnya, terpancar kesejukan yang luar biasa. Padahal,
wajah beliau biasa-biasa saja. Tapi, ternyata dibalik kelumpuhannya itu beliau memendam ketenteraman batin
yang begitu dahsyat, tergambar saat kita memandang sejuknya pancaran rona wajahnya.
kalau hari ini kita berhasil menemukan struktur wajah seseorang yang menenteramkan, maka cari tahulah kenapa dia sampai memiliki wajah yang menenteramkan
 seperti itu. Tentulah, benar-benar kita akan menaruh hormat. Betapa senyumannya yang tulus; pancaran wajahnya, nampak ingin sekali ia membahagiakan siapapun yang menatapnya. 
Dan sebaliknya, bagaimana kalau kita menatap wajah lain dengan sifat yang berlawanan; (maaf, bukan bermaksud meremehkan) ada pula yang wajahnya bengis, struktur katanya
 ketus, sorot matanya kejam, senyumannya sinis, dan sikapnya pun tidak ramah. Begitulah, wajah-wajah dari saudara-saudara kita yang lain, yang belum mendapat ilmu;
bengis dan ketus. Dan ini pun perlu kita pelajari. 
Ambillah kelebihan dari wajah yang menenteramkan, yang menyejukkan tadi menjadi bagian dari wajah kita, dan buang jauh-jauh raut wajah yang tidak ramah,
tidak menenteramkan, dan yang tidak menyejukkan. 
Tidak ada salahnya jika kita evalusi diri di depan cermin. Tanyalah; raut seperti apakah yang ada di wajah kita ini? Memang ada diantara hamba-hamba Allah yang bibirnya
di desain agak berat ke bawah. Kadang-kadang menyangkanya dia kurang senyum, sinis, atau kurang ramah. bentuk seperti ini pun karunia Allah yang patut disyukuri
dan bisa jadi ladang amal bagi siapapun yang memilikinya untuk berusaha senyum ramah lebih maksimal lagi. 
Sedangkan bagi wajah yang untuk seulas senyum itu sudah ada, maka tinggal meningkatkan lagi kualitas senyum tersebut, yaitu untuk lebih ikhlas lagi. Karena senyum di wajah,
bukan hanya persoalan menyangkut ujung bibir saja, tapi yang utama adalah, ingin tidak kita membahagiakan orang lain? Ingin tidak kita membuat di sekitar kita tercahayai? 
Nabi Muhammad SAW, memberikan perhatian yang luar biasa kepada setiap orang yang bertemu dengan beliau sehingga orang itu merasa puas. Kenapa puas? Diriwayatkan bahwa
Nabi Muhammad SAW – bila ada orang yang menyapanya – menganggap orang tersebut adalah orang yang paling utama di hadapan beliau. Sesuai kadar kemampuannya.
ketika Nabi SAW berbincang dengan siapapun, maka orang yang diajak berbincang ini senantiasa menjadi curahan perhatian. Tak heran bila cara memandang,
cara bersikap, ternyata menjadi atribut kemuliaan yang beliau contohkan. Dan itu ternyata berpengaruh besar terhadap sikap dan perasaan orang yang diajak bicara. 
Adapun kemuramdurjaan, ketidakenakkan, kegelisahan itu muncul ternyata diantara akibat kita belum menganggap orang yang ada dihadapan kita orang yang paling utama.
Makanya, terkadang kita melihat seseorang itu hanya separuh mata, berbicara hanya separuh perhatian. 
Misalnya, ketika ada seseorang yang datang menghampiri, kita sapa orang itu sambil baca koran. Padahal, kalau kita sudah tidak mengutamakan orang lain, maka curahan kata-kata,
 cara memandang, cara bersikap, itu tidak akan punya daya sentuh. Tidak punya daya pancar yang kuat. 
Oleh karena itu, marilah kita berlatih diri meneliti wajah, tentu saja bukan maksud untuk meremehkan. Tapi, mengambil tauladan wajah yang baik, menghindari
 yang tidak baiknya, dan cari kuncinya kenapa sampai seperti itu? Lalu praktekkan dalam perilaku kita sehari-hari. Selain itu belajarlah untuk mengutamakan orang lain! 

Mudah-mudahan kita dapat mengutamakan orang lain di hadapan kita, walaupun hanya beberapa menit, walaupun hanya beberapa detik

Rabu, 03 Juli 2019

Kasih Sayang Kokoh Mantap dan Sejahtera

Kasih Sayang 
Islam sebagai sebuah agama suci menekankan secara sungguh-sungguh untuk melahirkan sebuah keluarga penyayang. Karena berangkat dari konsep sebuah keluarga penyayang itulah nanti akan terbentuk sebuah masyarakat dan negara yang kokoh, mantap dan sejahtera. 
yang mesti dibangun guna membentuk keluarga,masyarakat dan negara yang kokoh, mantap dan sejahtera yaitu: 

1. Kasih sayang antara suami dan istri 
Undang-undang Islam melarang dengan tegas pergaulan bebas antara lelaki dan perempuan yang bukan muhrim. Karena pergaulan yang demikian lebih banyak membawa mudharatnya. Melalui pergaulan bebas yang tidak diikat dengan ijab kabul (pernikahan) sudah tentu akan melahirkan bentuk kasih sayang yang hanya bersandar kepada pengaruh hawa nafsu semata. Hasil dari keadaan itulah yang akan menjerumuskan ke arah perzinahan, hamil diluar nikah, pengguguran kandungan serta pembuangan anak seperti yang banyak terjadi dalam masyarakat kita kini. 
Islam menggariskan ketetapan bahwa unsur kekeluargaan yang murni sewajarnya bertolak dari pernikahan yang sah. Agar supaya jalinan kasih sayang antara suami dan istri dapat dilakukan dengan bersih dan berakhlaq. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Surah Ar-Ruum, ayat 21: "Dan diantara tanda-tanda kekuasaan Allah, Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya dan dijadikan-Nya diantara kamu rasa kasih dan sayang." 
Dalam sebuah hadist Nabi Muhammad saw bersabda: "Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita yang solehah." Dalam sebuah hadis lain, Nabi Muhammad saw bersabda: "Orang mulia antara kamu adalah mereka yang berlaku baik kepada keluarganya, sebab aku sendiri pun berlaku paling baik terhadap keluargaku sendiri." 

2. Kasih sayang antara ibu bapak dengan anak 
Dari pernikahan antara suami/istri sudah tentu nantinya akan lahir keturunan, yang mana anak adalah amanah dari Allah yang perlu dididik dengan sempurna seperti yang diterangkan dalam dua hadist. Sabda Nabi Muhammad saw: "Wajib atas kamu memberi nafkah kepada mereka dan pakaian mereka yang munasabah" dan "Seseorang itu akan berdosa dengan sebab dia mensia-siakan mereka yang menjadi tanggungannya." 
Jika dibanding anak-anak yang lahir di luar nikah yang terbengkalai dan tersisih, anak yang lahir dari hubungan suami istri yang halal akan mempunyai tempat bergantung. Maka kepada kedua ayah dan ibu diletakkan tanggungjawab memberikan pendidikan, asuhan, kasih sayang sempurna. Sabda Nabi Muhammad saw: "Tiap-tiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua ibu bapanya yang bertanggungjawab menjadikannya yahudi, nasrani atau majusi." 
Berkaitan dengan hadits diatas, firman Allah SWT dalam surah At-Tahrim, ayat 6 menegaskan pula: "Wahai orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari azab api neraka." 

3. Kasih sayang antara anak dengan ibu bapak 
Sebagaimana ibu dan bapak memberikan kasih sayangnya kepada anak-anak, demikianlah juga Islam menganjurkan supaya anak-anak ikut memberikan kasih sayang mereka terhadap kedua ibu bapak mereka. Dari apa yang selalu kita dengar, 'sesungguhnya syurga itu terletak di bawah telapak kaki ibu'. 
Dengan menyayangi dan mengasihi ibu bapak, disamping mematuhi segala perintah dan nasihat keduanya, berkata-kata dengan mereka pun perlu menggunakan bahasa yang lemah lembut serta beradab, tidak menyinggung perasaan mereka dengan perkataan bernada kebencian, kasar dan menyakitkan. 
Sebaiknya seorang anak menunjukkan bukti kesyukuran dan rasa terima kasih terhadap jasa kedua orang tuanya yang sudah bersusah payah mendidik dan membesarkannya. Islam menegaskan, salah satu dosa besar ialah durhaka kepada kedua ibu bapa. 
Dalam surat An-Nisa, ayat 36 Allah berfirman: "Sembahlah Allah dan jangan mempersekutukannya serta kepada kedua ibu bapak hendaklah kamu berbuat baik." Dalam hal ini, Nabi Muhammad saw bersabda: "Keridhaan Allah bergantung kepada keridhaan ibu bapak, maka kemurkaan Allah juga bergantung kepada kemurkaan ibu bapak. Barang siapa yang setiap hari berbuat baik terhadap ibu bapak tetapi mengingkari Aku, maka Aku masih ridha kepadanya, namun siapa yang setiap hari meridhai Aku tetapi sebaliknya mendurhakai kedua ibu bapaknya, maka niscaya Aku murka kepadanya." 
Betapa tingginya nilai keberkatan kasih sayang seseorang anak terhadap ibu bapaknya sudah diterangkan oleh Islam melalui sebuah hadis yang sudah kerap kali kita dengar yaitu: "Apabila mati seseorang Muslim, maka terputuslah hubungannya kecuali tiga perkara yang bisa menyelamatkannya yaitu amal sholeh, shodaqoh dan do'a anak yang sholeh." 

4. Kasih sayang terhadap saudara dan tetangga 
Islam senantiasa menganjurkan supaya umatnya menjalin hubungan kasih sayang, silaturahim dan saling memberi satu sama lainnya. Kasih sayang itu bukan sekedar perlu dipupuk antara suami dan istri, ibu bapak dan anak serta anak dan ibu bapak saja, tetapi silaturahim terhadap saudara yang lain termasuk tetangga juga sangat digalakkan oleh Islam karena hasil dari ikatan kemesraan itu nanti akan menumbuhkan kekuatan ummat yang padu. 
Ini jelas disebutkan oleh Nabi Muhammad saw dalam hadist yang berbunyi: "Tidak sempurna iman seseorang sehingga dia mencintai saudara serta tetangganya sama seperti dia mencintai dirinya sendiri." Selain itu Nabi Muhammad saw juga bersabda: "Mereka yang baik diantara kamu ialah Muslim yang menyelamatkan Muslim lain dari perbuatan jahat oleh lidah dan tangannya." 
Kasih sayang yang dianjurkan Islam juga terbukti dengan amalan yang mewajibkan kita menunaikan zakat, infaq dan shodaqoh. Karena dengan amalan-amalan tersebut, mereka yang berkecukupan akan dapat membantu golongan orang miskin dan dhaif. Dalam sebuah hadist Nabi Muhammad saw bersabda: "Tidaklah sempurna iman seseorang Muslim jika ia bahagia dan merasa kenyang tetapi di sebelah rumahnya ada tetangganya yang sedih dan lapar." 
Dan dalam sebuah hadis yang lain Nabi Muhammad saw bersabda: "Amat besar pahala yang akan diberikan kepada seorang Muslim yang apabila aroma masakannya tercium oleh tetangga sebelahnya lalu dia bergegas untuk menyedekahkannya semangkuk." 

5. Kasih sayang terhadap masyarakat dan manusia 
Kasih sayang terhadap masyarakat dan seluruh manusia juga digalakkan oleh Islam. Untuk menjamin kerukunan hidup bermasyarakat, Islam juga mencegah kita berbuat kerusakan yang mengganggu keamanan dan ketertiban umum. Oleh karena itu Islam melarang kita mengumpat, berkata-kata bohong, fitnah, hasad dan dengki sesama manusia, menjatuhkan martabat orang lain, mencuri, merampok, menganiaya sesama manusia serta membunuh. 

Sehingga, karena terlalu besar nilai penyayang dan kecintaan Islam terhadap hubungan baik sesama masyarakat manusia, maka memberikan senyuman dan mengucapkan salam kepada orang lain serta tolong-menolong kepada sesama akan mendapat ganjaran kebaikan dari Allah.