MAKALAH EKOLOGI TUMBUHAN
PRODUKTIVITAS
II
(PRODUKSI
SERASAH, DEKOMPOSISI, DAN DAUR KARBON)

OLEH:
Ririn
Tania Taufik
1301470
DOSEN PEMBIMBING:
IRMA LEILANI EKA PUTRI, S.Si., M.Si.
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS
MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS
NEGERI PADANG
2014
PRODUKSI
SERASAH, DEKOMPOSISI, DAN DAUR KARBON
1.
PRODUKSI SERASAH
Serasah yaitu tumpukan
dedaunan kering, rerantingan dan berbagai sisa vegetasi lainnya diatas lantai
hutan atau kebun. Serasah yang telah membusuk (mengalami dekomposisi) berubah
menjadi humus (bunga tanah) dan akhirnya menjadi tanah.
Tumbuhan Serasah dapat mempengaruhi pola regenerasi semai di hutan hujan tropis
melalui suatu jumlah proses yang mempengaruhi kedua lingkungan fisik dan kimia
(Facelli& Pickett, 1991 dalam Brearley et al., 2003). Di
tingkat perkecambahan benih, serasah dapat menahan cahaya, yang akan menghambat
perkecambahan dengan mengubah perbandingan red/far-red (Vazquez-Yanes et
al., 1990 dalam Brearley et al., 2003); hal itu dapat bertindak
sebagai suatu penghalang fisik untuk kemunculan semai (Molofsky&
Augspurger, 1992 dalam Brearley et al., 2003), terutama untuk
jenis yang small-seeded yang tidak mempunyai suatu persediaan sumber daya
besar (Metcalfe& Turner, 1998 dalam Brearley et al., 2003),
dan dapat mencegah calon akar baru berkecambah mencapai tanah. Serasah dapat
juga mencegah pendeteksian benih oleh pemangsa benih, dengan demikian
meningkatkan kesempatan sukses perkecambahan (Cintra, 1997 dalam Brearley
et al., 2003).
Produksi serasah merupakan bagian
yang penting dalam transfer bahan organik dari vegetasi ke dalam tanah. Unsur
hara yang dihasilkan dari proses dekomposisi serasah di dalam tanah sangat
penting dalam pertumbuhan berbagai ekosistem mangrove dan sebagai sumber
detritus bagi (Zamroni dan Immy, 2008). tanaman pada tingkat semai, serasah
dapat menciptakan lingkungan mikro setempat berbeda dengan pelepasan nutrisi
atau campuran phytotoxic selama pembusukannya, mengurangi erosi lahan
dan evapotranspiration (tetapi mungkin juga menahan curah hujan) dan mengurangi
temperatur tanah maksimum. Serasah juga dapat bertindak sebagai suatu faktor
mekanik, merusakkan atau membunuh semai ketika gugur ke tanah. Disana dapat
juga terjadi efek tidak langsung pada serasah daun, sebagai contoh, kelembaban
yang lebih tinggi di dalam lapisan serasah dapat menunjang pertumbuhan jamur
patogen yang dapat kemudian menyerang semai.
Hutan hujan tropis tingkat serasah
gugur sangat tinggi, dan merupakan jalan siklus hara yang paling penting dalam
ekosistem (Vitousek & Sanford, 1986; Proctor,1987 dalam Brearley et
al., 2003). Disana dapat dipertimbangkan ruang dan heterogenitas temporer
pada gugur serasah (Burghouts et al, 1994 dalam Brearley et al., 2003)
mungkin lebih lanjut ditekankan oleh faktor seperti angin badai, pembukaan
hutan dan pembagian hutan. Heterogenitas Serasah dapat juga meningkat dengan
tingkat pembusukan berbeda daun-daun dari jenis yang berbeda. Heterogenitas
serasah pada lantai hutan dapat menciptakan relung regenerasi berbeda (sensu
Grubb, 1977 dalam Brearley et al., 2003) dan karenanya membantu
menyumbangkan untuk keanekaragaman jenis yang begitu tinggi dalam hutan hujan
tropis.
2. DEKOMPOSISI SERASAH
Lantai hutan merupakan tempat terjadinya
pembusukkan. Dekomposisi atau pembusukkan adalah proses ketika makhluk-makhluk
pembusuk seperti jamur dan mikroorganisme pengurai tumbuhan dan hewan yang mati
dan mendaur ulang material-material serta nutrisi-nutrisi yang berguna. Kawasan
hutan dengan serasah yang menutupi tanah diareal itu berfungsi sebagai spons
yang akan menahan air hujan dan melepaskannya secara perlahan. Air hujan yang
tertahan diserasah ini lalu meresap kedalam tanah (Wikipedia, 2008).
Dekomposisi merupakan proses penting dalam fungsi ekologi. Organisme-organisme yang telah mati mengalami penghancuran menjadi pecahan-pecahan yang lebih kecil, dan akhirnya menjadi partikel-partikel yang lebih kecil lagi (Arisandi, 2002). Dekomposisi serasah adalah salah satu dari tingkatan proses terpenting daur biogeokimia dalam ekosistem hutan (Hardiwinoto dkk., 1994). Menurut Wikipedia serasah yaitu tumpukan dedaunan kering, rerantingan dan berbagai sisa vegetasi lainnya diatas lantai hutan atau kebun. Serasah yang telah membusuk (mengalami dekomposisi) berubah menjadi humus (bunga tanah) dan akhirnya menjadi tanah.
Dekomposisi merupakan proses penting dalam fungsi ekologi. Organisme-organisme yang telah mati mengalami penghancuran menjadi pecahan-pecahan yang lebih kecil, dan akhirnya menjadi partikel-partikel yang lebih kecil lagi (Arisandi, 2002). Dekomposisi serasah adalah salah satu dari tingkatan proses terpenting daur biogeokimia dalam ekosistem hutan (Hardiwinoto dkk., 1994). Menurut Wikipedia serasah yaitu tumpukan dedaunan kering, rerantingan dan berbagai sisa vegetasi lainnya diatas lantai hutan atau kebun. Serasah yang telah membusuk (mengalami dekomposisi) berubah menjadi humus (bunga tanah) dan akhirnya menjadi tanah.
Tumbuhan Serasah dapat mempengaruhi pola regenerasi semai di hutan hujan tropis
melalui suatu jumlah proses yang mempengaruhi kedua lingkungan fisik dan kimia
(Facelli& Pickett, 1991 dalam Brearley et al., 2003). Di
tingkat perkecambahan benih, serasah dapat menahan cahaya, yang akan menghambat
perkecambahan dengan mengubah perbandingan red/far-red (Vazquez-Yanes et
al., 1990 dalam Brearley et al., 2003); hal itu dapat bertindak
sebagai suatu penghalang fisik untuk kemunculan semai (Molofsky&
Augspurger, 1992 dalam Brearley et al., 2003), terutama untuk
jenis yang small-seeded yang tidak mempunyai suatu persediaan sumber
daya besar (Metcalfe& Turner, 1998 dalam Brearley et al., 2003),
dan dapat mencegah calon akar baru berkecambah mencapai tanah. Serasah dapat
juga mencegah pendeteksian benih oleh pemangsa benih, dengan demikian
meningkatkan kesempatan sukses perkecambahan (Cintra, 1997 dalam Brearley
et al., 2003).
Dekomposisi
merupakan suatu proses yang terjadi pada setiap bahan organik (bahan-bahan
hayati yang telah mati). Tanaman yang gugur akan mengalami dekomposisi dengan
ciri-ciri daunnya hancur seperti tanah dengan warna coklat kehitaman. Proses
dekomposisi secara umum terjadi pada tiga tahapan: tahap dekomposisi
aerobik yang mendominasi seluruh proses, prosesnya sangat pendek hal ini
disebabkan karena jumlah oksigen yang terbatas, BOD tinggi hasil sampah darat.
Tahap kedua dari proses anerobik terjadi ketika jumlah populasi bakteri
methanoigenesis tinggi proses. Stevenson (1982) dalam Rahmawaty (2000),
menyatakan bahwa proses dekomposisi mempunyai tiga tahapan, yaitu:
- Fase perombakan bahan organik segar, proses ini merubah ukuran bahan menjadi lebih kecil.
- Fase perombakan lanjutan, pada proses ini melibatkan kegiatan enzim mikroorganisme tanah. Fase perombakan terdiri menjadi beberapa tahapan yaitu:
a.
Tahapan awal, mempunyai ciri-cicri kehilangan secara cepat bahan-bahan
yang mudah terdekomposisi sebagai akibat pemanfaatan bahan organik sebagai
sumber karbon dan energi oleh mikroorganisme tanah, terutama bakteri. Proses
ini menghasilkan sejumlah senyawa sampingan seperti NH3, H2S,
CO2, asam organik dan lain-lain.
b.
Tahapan tengah: terbentuk senyawa organik tengahan atau antara (intermediate
products dan biomassa baru sel organisme).
c.
Tahapan akhir: dicirikan oleh terjadinya dekomposisi secara berangsur
bagian jaringan tanaman atau hewan yang lebih resisten (misal:lignin). Peran
fungi dan Actomycetes pada tahapan ini sangat dominan.
- Fase perombakan dan sintesis ulang senyawa –senyawa organik (humifikasi) yang akan membentuk humus
Barges dan Raw
(1976) dalam Rahmawaty (2000), menyatakan bahwa proses perombakan
berawal dari perombakan yang besar oleh makrofauna dengan meremah-remah
substansi habitat yang telah mati, sehingga menghasilkan butiran-butiran
feases. Butiran tersebut akan dimakan oleh mesofauna sperti cacing tanah dan
sama dengan hasil akhir butiran-butiran feases. Materi terakhir akan dirombak
oleh mikroorganisme khususnya bakteri dan jamur. Mekanisme dekomposisi serasah
daun oleh organisme dan mikroorganisme yaitu jamur dan bakteri yang memiliki
peranan penting dalam proses dekomposisi. Dekomposer seperti jamur dan bakteri
akan memanfaatkan bahan organik dalam bentuk terlarut. Kelembaban rendah peran
jamur dalam mendekomposisi lebih dominan daripada bakteri, sehingga serasah
yang mengalami dekomposisi akan berubah menjadi humus dan akhirnya menjadi
tanah.
Suhu dan
kelembaban udara mempengaruhi jatuhkan serasah tumbuhan. Naiknya suhu udara
akan menyebabkan menurunnya kelembaban udara sehingga transpirasi akan
meningkat, dan untuk menguranginya maka daun harus segera digugurkan
(Salisbury, 1992 dalam Zamroni dan Immy, 2008). Menurut Soeroyo
(2003) dalam Zamroni dan Immy 2008, faktor lain yang mempengaruhi
guguran serasah adalah curah hujan.
Proses
dekomposisi serasah antara lain dipengaruhi oleh kualitas (sifat fisika dan
kimia) serasah tersebut dan beberapa faktor lingkungan. Faktor lingkungan yang
terdiri dari organisme dalam tanah, curah hujan, suhu dan kelembaban tempat
dekomposisi berlangsung. Faktor penting yang berpengaruh terhadap proses
dekomposisi suatu bahan atau serasah adalah kualitas (sifat fisika dan kimia).
Tingkat kekerasan daun dan beberapa sifat kimia seperti kandungan awal (initial
content) lignin, selulosa, dan karbohidrat berpengaruh terhadap tingkat
dekomposisi serasah daun (Hardiwinoto dkk., 1994).
Tingkat
penutupan (tebal tipisnya) lapisan serasah pada permukaan tanah berhubungan
erat dengan laju dekomposisinya (pelapukannya). Semakin lebat terdekomposisi
maka keberadaannya dipermukaan tanah menjadi lebih lama (Hairiah et al., 2000).
Laju dekomposisi serasah ditentukan oleh kualitas nisbah C:N, kandungan lignin
dan polyphenol. Serasah dikategorikan berkualitas tinggi apabila nisbah C:N
<25, kandungan lignin<15% dan polyphenol <3%, sehingga proses
pelapukan berlangsung cepat. Kecepatan pelapukan suatu jenis bahan organik
ditentukan oleh kualitas bahan tersebut. Penepatan kualitas dilakukan dengan
menggunakan seperangkat tolak ukur, yang berbeda untuk tiap jenis unsur hara.
Kecepatan melapuk bahan organik ditentukan oleh berbagai faktor antara lain
kelembaban, suhu tanah, dan kualitas bahan organik. Bahan organik berkualitas
tinggi akan cepat dilapuk dan akibat unsur hara (misalkan N) dilepaskan dengan
cepat menjadi bentuk tersedia.
3.
DEKOMPOSISI DAN DAUR KARBON
a.
Daur Karbon
Daur karbon
adalah proses pemanfaatan CO2 diudara untuk keperluan fotosintesis tumbuhan dan
pembentukan CO2 kembali sebagai hasil dari proses respirasi makhluk hidup. Daur karbon juga
dapat diartikan sebagai rangkaian transformasi, karbon dioksida
ditetapkan sebagai karbon atau senyawa karbon dalam organisme-organisme hidup
melalui fotosintesa atau komosintesi, dibebaskan melalui respirasi dan atau
kematian dan penguraian organisme pengikat, yang digunakan oleh spesies
heterofik, dan akhirnya dikembalikan kepada keadaan asli untuk digunakan lagi. Daur karbon bersamaan terjadi
dengan dengan daur oksigen yang berkaitan dengan proses fotosintesis.

Dalam ekosistem
air, pertukaran CO2 di air dengan diatmosfer berjalan secara tidak langsung.
Karbon dioksida berikatan dengan air membentuk asam karbonat yang akan terurai
menjadi ion bikarbonat. Bikarbonat adalah sumber karbon bagi alga yang
memproduksi makanan untuk diri mereka sendiri dan organisme heterotrof lain.
Begitu pula sebaliknya, saat organisme air berespirasi, CO2 yang mereka
keluarkan menjadi bikarbonat.
Karbon
diambil dari atmosfer dengan berbagai cara:
Fotosintesis
Pada permukaan laut ke arah kutub, air laut
menjadi lebih dingin dan CO2 akan lebih mudah larut. Selanjutnya CO2 yang larut
tersebut akan terbawa oleh sirkulasi termohalin yang membawa massa air di
permukaan yang lebih berat ke kedalaman laut atau interior laut (lihat bagian
solubility pump).
Di laut bagian atas (upper ocean), pada daerah
dengan produktivitas yang tinggi, organisme membentuk jaringan yang mengandung
karbon, beberapa organisme juga membentuk cangkang karbonat dan bagian-bagian
tubuh lainnya yang keras. Proses ini akan menyebabkan aliran karbon ke bawah
(lihat bagian biological pump).
Pelapukan batuan silikat. Tidak seperti
dua proses sebelumnya, proses ini tidak memindahkan karbon ke dalam reservoir
yang siap untuk kembali ke atmosfer. Pelapukan batuan karbonat tidak memiliki
efek netto terhadap CO2 atmosferik karena ion bikarbonat yang terbentuk terbawa
ke laut dimana selanjutnya dipakai untuk membuat karbonat laut dengan reaksi
yang sebaliknya (reverse reaction).
Karbon dapat
kembali ke atmosfer dengan berbagai cara pula, yaitu:
Melalui pernafasan (respirasi) oleh manusia,
tumbuhan dan binatang.
Melalui pembusukan binatang dan tumbuhan.
Fungi atau jamur dan bakteri mengurai senyawa karbon pada binatang dan tumbuhan
yang mati dan mengubah karbon menjadi karbon dioksida jika tersedia oksigen,
atau menjadi metana jika tidak tersedia oksigen.
Melalui pembakaran material organik yang
mengoksidasi karbon yang terkandung menghasilkan karbon dioksida (juga yang
lainnya seperti asap).
Produksi semen. Salah satu komponennya, yaitu
kapur atau gamping atau kalsium oksida, dihasilkan dengan cara memanaskan batu
kapur atau batu gamping yang akan menghasilkan juga karbon dioksida dalam
jumlah yang banyak.
Di permukaan laut dimana air menjadi lebih
hangat, karbon dioksida terlarut dilepas kembali ke atmosfer.
b.
Dekomposisi
Karbon
Laju evolusi
CO2 yang paling besar ada di permukaan tanah dimana terdapat konsentrasi sisa
tanaman yang paling tinggi. Semakin dalam ke profil tanah, laju produksi CO2
menurun, dan pada kedalaman 50 cm atau lebih evolusi CO2 sudah sangat terbatas.
Sementara laju respirasi dalam melepaskan karbon jauh lebih rendah dari serapan karbon oleh tanaman.
Sementara laju respirasi dalam melepaskan karbon jauh lebih rendah dari serapan karbon oleh tanaman.
4.
CADANGAN KARBON
Penyerapan
karbon terjadi didasarkan atas proses kimiawi dalam aktivitas fotosintesis tumbuhan
yang menyerap CO2 dari atmosfer dan air dari tanah menghasilkan oksigen dan
karbohidrat yang selanjutnya akan berakumulasi mejadi selulosa dan lignin
sebagai cadangan karbon. Komponen
cadangan karbon daratan terdiri dari cadangan karbon di atas permukaan tanah,
cadangan karbon di bawah permukaan tanah dan cadangan karbon lainnya.
Cadangan karbon di atas permukaantanah terdiri dari tanaman hidup
(batang, cabang, daun, tanaman menjalar, tanamane pifit dan tumbuhan bawah) dan
tanaman mati (pohon mati tumbang, pohon mati berdiri, daun, cabang, ranting,
bunga, buah yang gugur, arang sisa pembakaran). Cadangan
karbon di bawah permukaan tanah meliputi akar
tanaman hidup maupun mati, organisme tanah dan bahan organik tanah.
Kemampuan hutan dalam menyerap dan menyimpan karbon tidak sama baik di
hutan alam, hutan tanaman, hutan payau, hutan rawa maupun di hutan rakyat
tergantung pada jenis pohon, tipe tanah dan topografi.
1. Cadangan
Karbon di Hutan Alam
Cadangan karbon pada berbagai kelas penutupan lahan di hutan alam
berkisar antara 7,5 – 264,70 ton C/ha. Hutan lahan kering relatif memiliki
kemampuan menyimpan karbon dalam jumlah lebih besar daripada hutan rawa dan
mangrove karena kemampuannya dalam membangun tegakan yang tinggi dan
berdiameter besar sebagai tempat menyimpan karbon.
2. Cadangan
Karbon di Hutan Tanaman
Kemampuan hutan tanaman dalam menyimpan karbon lebih rendah dibandingkan
hutan alam. Kemampuan hutan tanaman dalam menyimpan karbon tersebut akan
dipengaruhi oleh jenis yang ditanam, kondisi tempat tumbuh dan teknik
silvikultur atau intensitas pemeliharannya
3. Cadangan Karbon pada Kawasan Non Hutan
Cadangan karbon pada kawasan non hutan pada berbagai jenis tanaman dan
umur berkisar antara 0,7 – 932,96 ton/ha. Savana atau padang rumput dan semak
belukar memiliki keterbatasan dalam menyimpan karbon, sementara untuk hutan
kota dan ruang terbuka hijau yang didominasi oleh tumbuhan berupa pepohonan
kemampuan menyimpan karbonnya lebih tinggi bahkan hampir sama dengan kawasan
hutan lahan.
4. Cadangan
Karbon Tanah
Cadangan karbon tanah pada berbagai tipe jenis tanah dan kedalaman
berkisar antara 5,70 – 6.394 ton/ha. Potensi penyimpanan karbon yang paling
besar terdapat pada lahan gambut yang didominasi oleh tanah organic dimana
kandungannya sangat dipengaruhi oleh tingkat dekomposisi (kematangan) lahan
gambut itu sendiri. Potensi yang besar ini tentunya perlu dijaga mengingat
lahan gambut sangat rentan terhadap bahaya kebakaran yang justru akan menyumbang
emisi karbondioksida.
DAFTAR PUSTAKA
Arisandi, P. 2002. Dekomposisi Serasah Mangrove.
Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah-ECOTON.
Brearley, F.,
Q. Malcolm C. P. and Julie D. S. 2003. Nutrients Obtained From Leaf Litter Can
Improve The Growth Of Dipterocarp Seedling. Phytologist 160: 101-110.
Hairiah, Kurniawan, D. S., Widianto, Berlian, Erwin,
S., Aris, M., Rudy. H. W., Cahy, P dan Subekti, R. 2003. Alih Guna Lahan Huta
menjadi Lahan Agroforestri Berbasis Kopi:Ketebalan Serasah, Popilasi Cacing
Tanah dab Makroporositas Tanah. World Agroforestry Center: 68-80.
Hardiwinoto, S. Haryono, S. Fasis, M. Sambas, S. 1994.
Pengaruh Sifat Kimia Terhadap Tingkat Dekomposisi. 2(4):25-36.
Rahmawaty. 2000. Keanekaragaman Serangga Tanah dan
Perannya pada Komunitas Rhizopora spp. Dan Konitas Ceriops tagal
di Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai, Sulawesi Tenggara. Tesis Program paska
Sarjana. IPB, Bogor.
Wikipedia. 2008. Dekomposisi.
http://id.wikipedia.org/wiki/Dekomposisi. diakses tanggal 30 Maret 2014.
Zamroni, Y. dan
Immy, S. R. 2008. Produksi Serasah Hutan Mangrove di Perairan Pantai
Teluk Sepi, Lombok Barat. Volume 9, Nomor 4 Oktober 2008. Halaman: 284-287.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar